Showing posts with label Sejarah Bank BCA. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Bank BCA. Show all posts

Monday

Bank Central Asia (IDX: BBCA) adalah bank swasta terbesar di Indonesia. Bank ini didirikan pada 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV dan pernah merupakan bagian penting dari Grup Salim. Presiden Direktur saat ini (untuk masa jabatan 2006-2008) adalah Djohan Emir Setijoso.

Sejarah
BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997.


Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.

Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.

Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan publik. Penawaran Saham Perdana berlangsung di tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham ke dua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA.

Dalam tahun 2002, BPPN melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh pada regulasi, pengelolaan risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagai bank transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial.

Pemegang Saham

Komposisi pemegang saham pada tanggal 31 Desember 2005[1]
adalah sebagai berikut:

FarIndo Investments (Mauritius) Ltd qualitate qua (qq) Farallon Capital Management LLC (Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono) - 51,18%
Anthoni Salim - 1,77%
Dewan direksi - 0,41%
Pemegang saham lainnya/Publik - 46,64%

Daftar Dewan Komisaris dan Direksi untuk masa jabatan mulai 26 Mei 2006 hingga 2008:

Dewan Komisaris
1 Presiden Komisaris Eugene Keith Galbraith
2 Komisaris Tonny Kusnadi
3 Komisaris Cyrillus Harinowo*
4 Komisaris Renaldo Hector Barros*
5 Komisaris Raden Pardede*
Dewan Direksi
1 Presiden Direktur Djohan Emir Setijoso
2 Wakil Presiden Direktur Aswin Wirjadi
3 Wakil Presiden Direktur Jahja Setiaatmadja
4 Direktur Dhalia Mansor Ariotedjo
5 Direktur Anthony Brent Elam
6 Direktur Suwignyo Budiman
7 Direktur Subur Tan


Source : Bank Central Asia

Pemegang Saham Per 31 Desember 2007

PT Bank Central Asia Tbk
Jumlah saham 58.702.000.000
99,58%

BCA Finance Limited
Jumlah saham 250.000.000
0,42%

Jumlah
Jumlah saham 58.952.000.000
100%

BCA berdiri pada tahun 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Bank Central Asia merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia yang melayani nasabah perorangan, badan usaha maupun institusi melalui jaringan kantor cabang berskala nasional yang menjangkau hampir seluruh kota besar di Indonesia, serta jaringan pelayanan terpadu yang menghadirkan layanan direct banking 24 jam melalui ATM, internet, telepon sambungan tetap maupun telepon selular.

Setelah krisis ekonomi pada tahun 1997-1998, BCA diambil alih oleh pemerintah dan diikutsertakan dalam program restrukturisasi yang dilaksanakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pemerintah Indonesia melalui BPPN menguasai 92,8% dari kepemilikan BCA. Karena pemulihan atas kondisi keuangan dan operasi BCA berjalan sangat baik, maka pada tahun 2000 pengawasan terhadap BCA dikembalikan dari BPPN ke Bank Indonesia

BCA saat ini memiliki lebih dari 815 kantor cabang dan 5.688 ATM dengan lebih dari 7 juta konsumen, dengan total asset sekitar Rp 222 trilyun. Pemegang saham mayoritas BCA adalah Farindo Investments (51,15%) dan masyarakat umum (publik) sebesar 46,72%. BCA terus mempertahankan reputasinya di dunia perbankan; terbukti dari beberapa penghargaan yang diterima seperti “Asia’s Best Companies 2004 (dari Finance Asia), Superbrand Indonesia 2004 (Swa – Mars), Top 200 Asia’s Leading Companies in 2003 and 2004 (Far Eastern Economic Review Magazine)

Sejarah Perusahaan, PT BCA Finance (BCAF) didirikan dengan nama PT Central Sari Metropolitan Leasing Corporation pada tahun 1981 dengan komposisi saham dimiliki oleh PT Bank Central Asia, The Long Term Credit Bank of Japan, dan Japan Leasing Corporation. Perusahaan pada saat itu memfokuskan diri pada pembiayaan komersial, seperti pembiayaan mesin-mesin produksi, alat berat, dan transportasi.

Pada tahun 2001, nama Perusahaan berubah menjadi PT Central Sari Finance (CSF), dengan BCA menjadi pemegang saham mayoritas Perusahaan dengan kepemilikan saham sebesar 99,58%, kemudian pada tanggal 28 Maret 2005 CSF telah berubah nama menjadi PT BCA Finance (BCAF). Kegiatan utama BCAF adalah pembiayaan kendaraan khususnya roda empat (mobil), dan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada tahun 2000, total aktiva BCAF adalah sebesar Rp 89 milyar, dan pada akhir tahun 2007 telah mencapai Rp 1,44 Trilyun`dengan aktiva kelolaan lebih dari Rp 5,79 Trilyun rupiah.


Pada tahun 2003, Perusahaan untuk pertama kalinya menerbitkan obligasi dengan nama "Obligasi Central sari Finance I Tahun 2003 dengan Tingkat Bunga Tetap", sebesar Rp 200 Milyar. Obligasi ini telah jatuh tempo dan dibayar lunas pada tanggal 29 september 2006. kemudian pada tanggal 27 Februari 2007, perusahaan kembali menerbitkan obligasi dengan nama " Obligasi BCA Finance II Tahun 2007 dengan Tingkat Bunga Tetap", sebesar Rp 500 Milyar, dan diterbitkan dalam 4 seri, dengan jangka waktu masing-masing adalah 54, 36, 42, an 48 bulan. Pada tahun 2008, obligasi tersebut memperoleh peringkat "Aa3.id" dari Moodys Indonesia.

Bidang Usaha

Perusahaan memiliki izin usaha berdasarkan SK Menteri Keuangan RI, yang meliputi bidang usaha pembiayaan konsumen, sewa guna usaha, anjak piutang, dan usaha kartu kredit.

Saat ini fokus usaha adalah pembiayaan kendaraan bermotor (roda empat atau lebih); dan pembiayaan untuk sewa guna usaha misalnya leasing untuk alat berat, photo digital printer, dan mesin industri.

Source : bcafinance.co.id

Tuesday

Lima Dasawarsa Pertama

BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV.
Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997.

Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini mempengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA di tahun 1998.

Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia di tahun 2000.

Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan public. Penawaran Saham Perdana berlangsung di tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham ke dua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA.

Dalam tahun 2002, IBRA melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh pada regulasi, pengelolaan risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagai bank transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial.

Source : klikbca.com

Topic Relation :
KKB BCA
Kta mandiri
Contoh tabel kta
Info Product BCA

Visitors

Total Pageviews

Popular Posts