Tuesday

Herman S. Budi, Selalu One Step Ahead.

Untuk menjadi leader di pasar, seseorang harus berani mengambil keputusan sebagai pioner dengan segala risikonya. Itulah yang dilakukan Herman ketika membelokkan kemudi ke pembiayaan elektronik. Wiyono

SEO SuksesKalem dan sederhana, kesan itu yang muncul saat berhadapan dengan Herman S. Budi yang menjabat sebagai pimpinan salah satu perusahaan pembiayaan ini. Sewaktu berbincang-bincang pun, gaya akrabnya tetap wajar, walau tidak kaku namun tetap tidak berlebih-lebihan. Demikian pula pembawaannya yang ramah layaknya ciri khas orang-orang di bisnis jasa maupun penjualan pada umumnya yang harus selalu sabar melayani klien.
Tidak heran, sebelum menempati posisi teratas sebagai direktur PT Finansia Multifinance (FM), pada tahun 1997 ia memulai karir di bisnis ini sebagai staf GM pada bagian kredit dan marketing. Selanjutnya karir sebagai eksekutif ternyata dilaluinya dengan cukup pesat. Setelah satu tahun kemudian, ia telah dipercaya menduduki pucuk pimpinan. Gelar insinyur teknik sipil agaknya tidak membuat pria kelahiran Ternate itu canggung di dalam mengelola bisnis keuangan. Malah boleh dikata sampai sekarang ijasah tersebut tetap tinggal tersimpan rapi dalam lemari alias tidak dipergunakan sama sekali. “Pengalaman kerja yang pertama kali saya terjun di market otomoif, lalu masuk di asuransi Astra memegang wilayah Jabotabek,” tuturnya.

Tidak lama masuk di perusahaan pembiayaan kredit yang kini dinakhodainya, Herman telah dihadapkan pada ujian karena pada 1998 mulai terjadi badai krisis moneter yang sempat melumpuhkan sebagian besar sektor dunia usaha. FM yang ketika itu masih merupakan perusahaan leasing kendaraan alat berat dan otomotif sempat menghentikan usaha. Dan selanjutnya apa boleh buat akhirnya memilih mengalihkan usaha pada pembiayaan kredit kendaraan roda dua. “Pasar mobil secara umum mengalami penurunan penjualan, sementara itu bunga bank tinggi sekali, sedangkan kita lihat membutuhkan waktu lama untuk bisa recovery,” ungkapnya..
Ketika itu ia berargumen bahwa dengan penurunan pendapatan rata-rata, otomatis masyarakat akan mencari alat transportasi alternatif yang lebih murah ketimbang mobil. Dari sisi bisnis tingkat kompetisi pada kredit otomotif juga sudah sedemikian tinggi dan mulai tidak sehat. Sedangkan menurut perhitungan, paling tidak dalam lima tahun ke depannya, kendaraan roda dua dipastikan pertumbuhannya akan sangat tinggi. “Bila dilihat dari sisi profitabilitas, meskipun bunga bank masih cukup tinggi, tetapi selling interest-nya masih bisa menutupi, dengan kata lain profit margin cukup untuk menjadikan perusahaan bisa survive dan berkembang,” tambahnya.

Perkiraan itu tidak meleset, persoalannya perusahaan-perusahaan sejenis juga berpikiran seragam dan mulai membidik pasar sepeda motor. Gejala persaingan tidak sehat segera timbul, di mana bukan produsen yang mengejar leasing, tetapi sebaliknya perusahaan pembiayaanlah yang bersaing memperebutkan jatah. Gerah dengan kondisi seperti itu, usaha tersebut diteruskan hanya sampai dengan 2000. Selanjutnya perusahaan ini kembali melirik pada sebuah peluang baru.
Herman mengamati, setidaknya hingga pada waktu itu belum ada lembaga kredit yang mencoba pasar elektronik. Padahal, menurutnya bila menilik perkembangan pasarnya ia bakal memiliki opportunity yang cukup bagus. “Masalahnya yang pertama adalah market masih perlu diedukasi dan kedua belum ada bank yang bersedia memberikan pinjaman,” tukas Herman. Merasa yakin hal itu sebagai pilihan yang tepat, sekali lagi usaha dialihkan dan kali ini masuk ke pasar ritel elektronik walau harus memakai dana sendiri,

“Kita selalu mencoba one step ahead, Pak,” tukas bapak dua anak laki-laki dan satu perempuan ini. Sebagai pilot project ia membuka pasar di Surabaya, dan ternyata berkembang cukup bagus. Seterusnya ekspansi mulai dilakukan yakni merambah ke Jawa Tengah hingga sampai akhirnya memiliki cabang di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Lalu ibarat pepatah ada gula ada semut, perkembangannya yang bagus itu ditengok dan mulai diikuti oleh multifinance yang lain. “Kita termasuk yang start early di sini,” imbuhnya dengan sedikit bangga.

Disebutkan, FM sekarang telah masuk di 29 kota dengan 43 buah kantor cabang. Jumlah karyawan kurang lebih 1.500 orang dan terus ditambah setiap hari seiring laju perusahaan. Di tengah persaingan dengan berbagai perusahaan pembiayaan tetap mampu mempertahankan pertumbuhan di atas 80%. Kini jumlah nasabah yang aktif tercatat sekitar 200-an ribu pengguna jasa, sedangkan konsumen selain perorangan atau pribadi, beberapa di antaranya juga termasuk dari korporasi khususnya skala UKM. Pendanaan tersebut mencakup fasilitas kredit elektronik, furniture, maupun komputer.
“Kerja sama dilakukan baik dengan modern market maupun dengan ribuan toko-toko di pasar-pasar tradisional yang ada,” ujarnya sambil menyebutkan beberapa nama mitra bisnis yang tergolong pasar moderen. “Dengan adanya pasar-pasar moderen yang melakukan promosi dan meng-create program bersama perusahaan multifinance, tentunya ditambah upaya edukasi yang telah dirasakan manfaatnya maka saya lihat pasar kredit makin bagus,” paparnya mengimbuhi.

Herman menyebutkan paling tidak terdapat dua hal yang menunjang kesuksesan usahanya. Pertama, kekuatan perusahaan terletak pada kesiapan teknologi. Menurutnya aplikasi TI adalah sebagai sarana yang mampu menyajikan kemudahan, kecepatan kerja dan efisiensi bagi perusahaan dibandingkan dengan sistem manual yang cenderung lambat serta butuh lebih banyak waktu dan tenaga. “Bahkan sejak 1997 kita sudah terbiasa mempergunakan email untuk keperluan surat-menyurat maupun penulisan laporan,” ujarnya. Kedua, membangun perusahaan adalah membangun infrastruktur, untuk itu selalu disiapkan sebuah sistem penunjang operasional yang matang. “SOP diperbarui dan diperbaiki terus,” tambahnya.

Lebih lanjut, diakui bahwa penjualan elektronik secara kredit kurang lebih baru 10% dari keseluruhan yang mencapai Rp 18-20 triliun per tahun tetapi jumlah itu terus tumbuh. Dia membuat gambaran seperti halnya fenomena penjualan sepeda motor, sebelum krisis yang memakai sistem kredit baru sekitar 30%, tetapi sekarang hampir 80%-90% penjualan adalah melalui kredit. “Jadi pasar elektronik masih sangat potensial untuk digarap,” tandasnya. Pastinya merupakan sebuah harapan yang bukan tidak masuk akal.

Source : © 2008 Peluang Usaha dan Solusinya

Sejarah bank bca
Bca refinancing
Kredit bni untuk wirausaha
Sejarah bank bni
Mencipta ide dan jadi miliarder

0 comments:

Visitors

Total Pageviews

Popular Posts